Ad Code

Responsive Advertisement

Rumah Panggung: Rumah Adat di Pulau Saibus


Rumah panggung merupakan jenis rumah adat yang masih banyak dijumpai di Indonesia, termasuk di Pulau Saebus dan wilayah sekitarnya. Walaupun termasuk wilayah Jawa Timur, Pulau Saebus tindak menggunakan 'joglo' sebagai rumah adatnya. Di sana, masyarakat menggunakan 'rumah panggung' baik pada suku baik suku bajo di daratan maupun di lautan.

Rumah panggung memiliki beberapa filosofi dan keunikan yang menarik, berikut beberapa di antaranya:

  1. Perlindungan dari bahaya alam: Konstruksi rumah panggung dengan lantai yang tinggi di atas tanah, membuat penghuni rumah terlindungi dari bahaya alam seperti banjir, gempa bumi, atau longsor. Hal ini juga memungkinkan sirkulasi udara di bawah rumah untuk menjadi lebih baik, sehingga membuat suhu dalam rumah menjadi lebih sejuk.
  2. Simbolisasi keseimbangan alam: Rumah panggung memperlihatkan kearifan lokal dalam membangun hunian yang seimbang dengan alam sekitarnya. Dalam filosofi suku Bajo, rumah panggung melambangkan keseimbangan antara langit, air, dan tanah, karena konstruksi rumah tersebut mengangkat rumah dari permukaan tanah ke ketinggian tertentu.
  3. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan: Tingginya lantai rumah panggung dari tanah memungkinkan penghuni rumah untuk lebih mudah menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan di sekitarnya. Hal ini dikarenakan lingkungan di bawah rumah tidak terlalu banyak tercemar oleh debu, kotoran, dan sampah.
  4. Simbolisasi hierarki sosial: Rumah panggung juga melambangkan hierarki sosial di masyarakat adat, di mana tinggi rendahnya posisi dalam masyarakat ditentukan oleh ketinggian lantai rumah panggung. Semakin tinggi lantai rumah panggung, semakin tinggi pula posisi sosial penghuni rumah.

Rumah panggung memiliki nilai budaya dan filosofi yang kaya, serta menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat suku Bajo. Meskipun telah mengalami banyak perubahan dan adaptasi, rumah panggung tetap mempertahankan keunikan dan keasliannya dalam membangun hunian yang seimbang dengan lingkungan sekitarnya.


Bahan Pembuatan Rumah Panggung

Bahan utama pembuatan Rumah panggung di Pulau Saebus adalah pohon bakau untuk penopang, pohon kelapa untuk atap, dan pohon jati untuk bagian lainnya. Kombinasi bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah panggung di Pulau Saebus disesuaikan dengan berbagai jenis pohon yang tumbuh di kepulauan Saebus. 

Pertama, pohon bakau dipilih sebagai bahan utama penopang karena memiliki sifat tahan air sehingga dapat melindungi rumah dari banjir dan serangan air laut pasang yang umum terjadi di daerah pantai. Walaupun demikian, di bawah penopang rumah juga di  

Kedua, pohon kelapa digunakan untuk membuat rangka atap rumah karena kelapa memiliki serat yang kuat dan fleksibel. Walaupun demikian, ada pula masyarakat yang menggunakan balarak (daun kelapa) untuk dijadikan atap rumah karena mudah dipintal dan dianyam. 

Ketiga, pohon jati dipilih sebagai bahan pelengkap karena memiliki sifat kuat dan tahan lama, serta memiliki nilai estetika yang tinggi. Kayu jati sering digunakan untuk membuat hiasan dan ukiran pada bagian-bagian rumah panggung seperti jendela, pintu, dan tiang. 

Dengan kombinasi bahan-bahan tersebut, rumah panggung di Pulau Saebus dapat terbuat dari bahan yang tahan lama dan sesuai dengan kondisi alam di sekitar pulau. Selain itu, keberadaan rumah panggung juga menjadi bagian dari warisan budaya yang dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.


Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement